Pak harto terminal

Jangan siksa Pak Harto lebih lama lagi. Tindakan yang diambil sebenarnya cuma menunda ajal, hanya menyiksa beliau. Putera-puteri beliau dan orang-orang sekelilingnya harus menempatkan diri pada posisi beliau. Ikhlaskan. Biarkan beliau pergi dengan tenang...



Dari data-data yang beredar di media a.l dari tim dokter kepresidenan, boleh diduga Pak Harto mungkin sudah terminal. Untuk apa dan untuk siapa semua tindakan itu? Perhatikan sinyal sakit yang beliau rasakan dan betapa sengsaranya beliau meraih sekedar satu tarikan nafas di kerongkongan (cheyne-stokes). Berat beban menghadapi maut dan ketakutannya sungguh dahsyat. Tidakkah orang-orang di sekitar beliau memperhatikan?

Jika kondisi beliau memang sudah terminal, justru tidak etis mengupayakan harapan semu. Apalagi jika jelas ada simtom refractaire seperti sesak nafas dan kesakitan yang tidak bisa diatasi lagi dengan pemberian morfin. Perlu cepat diambil sikap dari sisi kepentingan beliau, misalnya beralih ke kebijakan terminal sedation, lalu doakanlah. Bantu beliau menyongsong ajal senyaman mungkin. Bakti terbaik lainnya dari putera-puteri beliau sekarang adalah dengan secara personal memintakan maaf dan menuntaskan semua utang beliau, jika ada. Jangan sampai beliau tertahan ruhnya karena hutangnya. Kasihan. Adapun negara tetap harus meneruskan proses perkara hukumnya. Bagi kita semua, sungguh pada peristiwa ini terdapat ayat-ayat nyata tentang law of reciprocity atau hukum berbalas (Al-Zalzalah: 7–8). Dan ketika kematian datang, harta benda dan advokatmu yang setia tiada lagi berguna. Maka berbuat baiklah.

Oleh edi santosa
Keterangan Penulis: Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
Label:
edit

Popular Posts