Tuesday, November 14, 2017

Pahami, Inilah Mengapa Istri selalu ingin Tahu Urusan Suami


Budi tengah mengendarai mobil bersama Novie, sang istri, untuk sebuah perjalanan yang cukup panjang. Di tengah perjalanan, telepon seluler Budi berdering, seseorang telah menelponnya. Budi segera mengaktifkan headset bluetooth untuk menerima telpon tersebut, tetap sambil menyetir. Perbincangan akrab pun terjadi, sekitar lima menit. “Oke, terimakasih telah menghubungiku. Senang sekali bisa menyambung lagi denganmu…. Sampai ketemu ya…” Budi mematikan handphone dan kembali konsentrasi menyetir.

“Siapa tadi?” tanya Novie.

“Arman, teman satu kelas di SMA dulu,” jawab Budi.

“Tinggal dimana Arman itu?” tanya Novie.

“Sekarang dia tinggal di Medan,” jawab Budi.

“Teman SMA ya? Wah berarti sudah lama tidak ketemu dong. Apa pekerjaan Arman itu?” tanya Novie.

“Dia membuka usaha kuliner. Memang sejak dulu suka bisnis,” jawab Arman.

“Kok tiba-tiba menelpon, tadi ngomongin apa?” tanya Novie.

“Yah sekedar say hello saja, sudah sepuluh tahun tidak bertemu…” jawab Budi.

“Terus, dia cerita apa saja?” tanya Novie.

“Nggak banyak cerita… yah, cuma mengabarkan dia sekarang cukup sukses, dan merasa senang tinggal di Medan,” jawab Budi.

“Hanya bilang kayak begitu? Setelah sepuluh tahun tidak bertemu?” tanya Novie.

Perbincangan di mobil itu dirasakan Budi bagai interogasi di kantor Polisi. Dia merasa tidak nyaman dengan berondongan pertanyaan tidak ada henti-hentinya dari Novie. Di mata Budi, Novie ingin mengerti terlalu banyak, bahkan lebih banyak dan lebih detail dari pengetahuan Budi sendiri tentang Arman. Seakan-akan Novie ingin mengetahui segala sesuatu tentang Arman, dan Budi tidak mengetahui, apa pentingnya hal itu bagi Novie. Seperti tengah mencari data dan fakta secara detail dan mendalam.

Kejadian seperti itu bukan hanya sekali dua kali dialami Budi. Dalam banyak kesempatan, tampak Novie selalu ingin mengetahui hal detail dari setiap urusan Budi. Ada kalanya Budi merasa dicurigai, merasa tidak dipercaya oleh Novie. Seakan-akan Novie ingin masuk terlalu dalam ke berbagai sisi kehidupan Budi. Suasana ini membuat Budi merasa tidak nyaman, karena dia sendiri tidak pernah bersikap seperti itu kepada Novie. Dia merasa memberikan kepercayaan sangat besar kepada Novie, sehingga tidak perlu bertanya terlalu detail tentang teman-teman dan kegiatan Novie.

Demikianlah keluhan umum para suami. Para istri tampak ingin selalu mengetahui isi handphone para suami, ingin mengetahui kegiatan apa saja saat di tempat kerja, berbicara dan bertemu dengan siapa saja. Semacam kepo, padahal sang suami merasa tidak pernah melakukan hal seperti itu terhadap istrinya. Dengan sikap seperti itu, banyak suami merasa tidak dipercaya oleh istri, merasa dicurigai dan dicampuri urusan pribadinya oleh istri.

Pertanyaannya adalah, mengapa perempuan tampak selalu ingin mengetahui semua hal dari suaminya? Ini bukan saja soal rumah tangga Novie dan Budi. Ini soal desain otak laki-laki dan perempuan secara umum yang sungguh berbeda.

Patut dibaca: Menghilangkan Kejenuhan Pasangan di Usia 10 Tahun Pernikahan

Perempuan Adalah Makhluk Komunikatif dan Detail

Hal pertama yang harus kita pahami adalah, struktur otak perempuan berjalur majemuk, sedangkan struktur otak laki-laki berjalur tunggal. Perbedaan ini berdampak secara signifikan dalam kehidupan keseharian, terutama dalam pola interaksi dan komunikasi. Salah satu sisi feminin kaum perempuan adalah kemampuan berkomunikasi verbal yang mengagumkan. Sedangkan sisi maskulin kaum laki-laki adalah kurang suka ungkapan verbal. Kaum laki-laki lebih suka bicara to the point, bukan berbunga-bunga.

Jika suami sering heran dengan tabiat istri yang serba ingin tahu detail, maka para istri juga heran dengan ketidakmautahuan suami tentang banyak hal. Di sini, istri tampak kepo, serba ingin tahu, sementara suami tampak cuek dan tidak peduli. Sekarang kita coba mencari jawaban, mengapa perempuan tampak ingin mengetahui segala hal detail dari suaminya? Lima poin berikut ini bisa memberikan sedikit gambaran.

1. Bahan Omongan dengan Suami

Bagi kaum perempuan, bertanya adalah bahan omongan dengan suami. Para istri selalu ingin berbicara, berkomunikasi secara verbal, karena dengan cara itu dia merasa nyaman dan diperhatikan. Bagi kaum perempuan, jika suami tidak banyak berbicara dengan dirinya, artinya suami tidak mencintainya. Hal ini bisa terjadi karena kaum perempuan menjadikan kata-kata sebagai ikatan emosional. Pada titik seperti itu, para suami merasa tengah diinterogasi dan tidak dipercayai.

Para istri selalu ingin mengobrol dengan suami, dan jika ia tidak sedang bersama suami pun, ia juga sedang mengobrol dengan teman-teman kerja atau teman-teman sosialita. Kemampuan berkomunikasi verbal kaum perempuan ini sering kali tidak dimengerti dan tidak diimbangi oleh para suami. Oleh karena itu, hendaknya para suami mengerti bahwa rangkaian pertanyaan istri yang sangat detail itu tidak bermaksud untuk menginterogasi, namun untuk menjadi bahan omongan agar selalu menyambung dengan suami. Selalu merasa dekat dengan suami, dan memastikan bahwa dirinya selalu diperhatikan oleh suami.

2. Bukan tentang Data dan Fakta

Saat istri bertanya hal-hal detail kepada suami -sebagaimana contoh dialog Novie dan Budi di atas- sesungguhnya istri ingin mengeksplorasi keingintahuan dirinya. Ini tidak terkait dengan data dan fakta yang otentik. Misalnya saat Novie bertanya tentang Arman, tidak berarti bahwa ia tengah menghendaki data secara valid tentang segala sesuatu. Ia memang ingin tahu dan ingin mendapat jawaban dari Budi, tapi bukan bermaksud menginterogasi. Bagi suami, sering tidak mengerti apa manfaat jawaban-jawaban dirinya itu bagi sang istri.

Bukankah Novie tidak akan berinteraksi dengan Arman, karena memang bukan teman lama, lalu apa manfaat mengetahui tentang Arman? Demikian pikiran Budi saat merasa diinterogasi oleh Novie. Budi merasa harus menyampaikan berbagai data dan fakta sekitar Arman, padahal dia sendiri tidak banyak tahu. Nah, jadi hendaknya para suami mengetahui, bahwa rangkaian pertanyaan tersebut tidak selalu terkait dengan data dan fakta otentiknya. Namun lebih kepada pelepasan sisi keingintahuan yang bisa dipahami pada poin ketiga di bawah ini.

3. Otak Perempuan Terprogram untuk Mencari Detail

Secara umum, otak perempuan memiliki desain yang terprogram untuk mencari detail segala sesuatu. Ini bukan hanya dengan suami, namun juga terjadi dalam pergaulan sosial mereka. Pada komunitas ibu-ibu, pengetahuan mereka satu dengan yang lainnya, jauh lebih detail dibanding dengan pada komunitas bapak-bapak. Pada komunitas bapak-bapak, pergaulan mereka yang sudah panjang pun, tidak menghasilkan pengetahuan detail satu dengan yang lain. Lebih mendetail pengetahuan ibu-ibu terhadap semua anggota komunitasnya.

Fenomena ini, dijelaskan oleh Allan dan Barbara Pease (2005), sebagai upaya untuk menjaga kelangsungan hubungan dalam waktu yang panjang. Pada otak kaum perempuan sudah tertanam pola, mereka ingin menjaga kelangsungan hidup dan kelangsungan suatu hubungan dalam jangka panjang. Maka ingin mengetahui detail segala sesuatu adalah bagian dari kesadaran untuk menjaga kelangsungan hubungan tersebut. Saat Novie mengetahui banyak hal tentang teman-teman dan kegiatan Budi, maka Novie merasa lebih bisa menjaga kelangsungan hubungan dalam jangka panjang dengan Budi.

4. Perempuan Dikaruniai Insting Pelacak

Studi menunjukkan, otak laki-laki memiliki ukuran 8 sampai 10 % lebih besar dibanding perempuan. Namun bukan berarti laki-laki lebih pintar karena ukuran otak ini. Otak manusia terdiri dari materi abu-abu yang melakukan pemikiran dan materi putih yang menghubungan tindakan yang berbeda. Karena laki-laki memiliki materi abu-abu yang lebih sedikit, mereka cenderung bertindak dengan single-minded focus, tidak banyak perhitungan dalam bertindak. Sedangkan perempuan lebih banyak pertimbangan, karena memiliki materi putih yang lebih banyak.

Pada sisi yang lain, Allah memberikan kelebihan kepada kaum perempuan diantaranya berupa insting pelacak. Perempuan memiliki area di otak yang bekerja pada insting pelacakan, jauh lebih besar dibanding pada laki-laki. Inilah yang membuat kaum perempuan bekerja lebih cepat ketika laki-laki masih berpikir. Ketika perempuan berpikir, mereka menggunakan sisi kanan otak yang mengkhususkan diri dalam masalah emosional. Ini bisa menjelaskan mengapa perempuan lebih baik dalam menangkap isyarat seperti bahasa tubuh, nada suara, dan lain sebagainya. Insting pelacakan ini yang membuat kaum perempuan ingin mengerti banyak hal bahkan detail tentang segala sesuatu, dibandingkan dengan kaum laki-laki.

5. Menunjukkan Perhatian kepada Kehidupan Suami

Selalu bertanya dan berbicara dengan suami, adalah cara kaum perempuan untuk menunjukkan perhatian kepada suami. Kaum perempuan tidak bisa diam, mereka akan terus berbicara, dan di mata laki-laki, hal itu membuat sang istri tampak sangat cerewet dan “kelebihan omongan”. Sementara itu sikap suami yang lebih banyak diam dan tidak bertanya secara detail tentang urusan istri, di mata perempuan tampak sebagai ketidakpedulian suami. Ini dimaknai sebagai kurangnya perhatian suami terhadap kehidupan istri. Lebih lanjut lagi, bisa dirasakan istri sebagai kurangnya cinta suami kepada dirinya.

Para istri menunjukkan perhatian kepada suami dengan berbagai pertanyaan, dan menjadikan jawaban suami sebagai bentuk perhatian suami terhadap dirinya. Jika suami menghindar, atau diam saja, atau tidak mau menjawab, hal itu sudah bisa dirasakan sebagai tidak adanya perhatian dari suami. Maka para suami hendaklah memberi jawaban atas apa yang ditanyakan para istri. Jika pertanyaan tersebut terasa sangat panjang, anda bisa mengajak istri untuk jogging atau berolah raga, agar sambil menjawab anda sudah bisa mendapatkan keringat dan kesehatan.


Bahan Bacaan
Allan & Barbara Pease, Why Men Lie and Women Cry, Dioma Publishing, Malang, 2005

Tulisan Asli oleh Cahyadi Takariawan, Wonderful Couple, Menjadi Pasangan Paling Bahagia, PT Era Adicitra Intermedia, Solo, 2015

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search