Tuesday, November 14, 2017

Menghilangkan Kejenuhan Pasangan setelah 10 Tahun Menikah

Menghilangkan Kejenuhan Pasangan
Note: sebelumnya mohon maaf. Tapi pembahasan dibawah ini memerlukan pembaca yang sudah menikah dan atau berusia 18thn keatas
Ada kalanya, ketika perkawinan sudah memasuki usia 10 tahun keatas, rutinitas yang ada memasuki pula fase kebosanan.

Tanpa disadari, pasangan yang dulunya menyenangkan hati hanya dengan memandangnya, menjadi sesuatu yang biasa saja, bahkan cenderung tidak menarik lagi.

Si suami yang gantengnya Masha Allah, hanya cakep bin wangi di pagi hari, ketika bersiap utk pergi ke tempat kerja bertemu dengan manusia-manusia lainnya, kecuali: istrinya.
Ketika berjam-jam kemudian mereka pulang, membawa baju lusuh penuh keringat dan muka yang berminyak. Parfum wangi yg td pagi disemprotkan entah sudah menguap kemana. Biasanya, mereka langsung ganti baju sama baju yg pe-we. Entah itu baju kaos putih tipis yg dijual lusinan dan bersarung, atau kaos lusuh dan celana pendek 10 ribu.
Eh, apa saya aja ya?

Sementara si istri, andai tidak dikenalkan sebagai tuan rumah, sudah lebih pantas dipanggil 'mbak' jika seorang tamu yg tak mengenalnya datang. Seragam: Daster tua yang swuuuppeer pe-we. Longgar, selutut, sedikit robek disana sini dan warnanya sdh ngak jelas apa. Atau daster batik atasan bawahan celana? Bau? Jangan ditanya.

Akhirnya, dua sejoli yang sejatinya saling menggairahkan, hanya ibarat teman serumah, kecuali of course, waktu dan jam tertentu di 'sana'.

Ini bukan cerita pribadi, walau sedikit banyak ada kesamaannya. Bukan pula usaha men-generalisir..hanya sekedar..ah sudahlah.

Pentingnya Refleksi Diri

Maka lantas, berkaca.. mengapa banyak perkawinan diusia ini diwarnai dengan perselingkuhan, ttm, poligami dsbg. Saya tidak pro ataupun anti poligami, karena itu adalah sesuatu yang diperbolehkan oleh sang maha pencipta. Saya hanya mengajak diri sendiri dan teman semua berkaca: apakah sudah cantik/ganteng di rumah khusus buat yang tercintaah?

Saya hanya mengajak, menghimbau, dan mengingatkan diri sendiri..
Terkadang fikiran saya menerawang jauh.. andai ada perempuan cantik, yang seperti apakah yang bisa membuat suamiku jatuh cinta..

Perlahan tapi pasti, aku harus berubah menjadi perempuan cantik itu. Dengan mengganti warna jilbab misalnya, pake produk kecantikan, ganti seluruh set daster rumah, potong rambut yg aneh sekali2, atau justru panjangkan. Warnai rambut dengan warna yang bikin wajah semakin menarik. Ganti suasana kamar. Cat ulang, lampu malam, new lingerie..

Buat si ayah.. Sudah pernah mampir ke toko khusus pakaian dalam utk pria? Hehe. Klo belum, bolehlah dischedulekan utk mampir segera di mall terdekat anda.

Contoh Suami Panutan

Saya ingat ketika saya dulu mengaji di yogyakarta. Saya sempet mampir kerumah guru saya ketika masih agak pagi. Saya terkejut melihat suami guru ngaji saya, sudah sangat rapi jam 6 pagi. Saya tahu benar jarak antara rumah dan kantor beliau tidak jauh. Sehingga tidak perlulah beliau siap sepagi itu.

Saya hanya bisa melongo ketika ibu guru saya memberikan penjelasan ttg kerapihan suaminya: setiap hari, teman-teman kerja suami saya, menikmati beliau dalam keadaan rapi, bersih dan wangi, berjam - jam lamanya. Namun, saya mendapat apa? Padahal, sayalah yang paling berhak atas kegantengan itu. Jadi, ( krn suami guru saya itu adalah org yg berpengetahuan agama ) ketika si istri melontarkan keinginannya itu, sang suami paham atas hak istrinya tsb, dan akhirnya bersepakat utk rapi 1 JAM sblm berangkat!!! Hanya utk dinikmati sang istri

Si istri pula, mengetahui bahwa keinginannya dipenuhi dengan baik oleh sang suami, juga tidak mau kalah.. Mempercantik diri sedari pagi. Walau itu berarti hrs repot menyiapkan sarapan pagi dengan makeup dan baju yg menarik.

Saya belajar banyak dari guru saya ini, namun saya belajr lebih banyak lagi dari ibu saya, yang tidak bosan-bosannya memberikan wejangan dan pengetahuan yang saya perlukan sesuai dengan usia saya ini.

Jadilah istri/suami baru bagi pasanganmu. Walau baru bisa seminggu dua kali. Bukankah setelah 10 tahun lebih, kau sudah bisa mengira-ngira apakah kesenangannya yg belum tersampaikan dan terwujud lagi? Realisasikan fantasi. Satu demi satu. Percayalah, bukan hanya dia yang menikmati, tapi yg melakukannya juga diam2 menikmati.

Tulisan asli ditulis oleh Wina Risman lewat grup Facebook-nya "Parenting with Elly Risman and family"

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search