Wednesday, November 29, 2017

Antara Pekerjaan dan Keluarga: Pelajaran dari Driver Uber di Bandung

) no-repeat center center;background-size:cover'>

Antara Pekerjaan dan Keluarga: Pelajaran dari Driver Uber di Bandung

antara pekerjaan dan keluarga
Saya mau sharing sesuatu yang agak “menohok” pikiran saya pagi ini; cerita bersama driver Uber pas nganter saya dari rumah ke stasiun Bandung. Pagi tadi saya order Uber jam 3 pagi. Setelah order, ternyata dapet Uber-nya jauh banget, sekitar 18 menit. Saya biarin aja, ternyata nggak di cancel sama drivernya.

Gak ada telpon sama sekali, sampe benar-benar dekat, baru ada telpon masuk. Ternyata beliau cukup pinter baca peta. Sampailah di rumah saya. Pertama kali ketemu, saya estimasi umurnya 50-an. Badannya agak gemuk, tinggi, rambut sudah putih semua, berjenggot cukup lebat, dan suaranya berat. Attitude-nya cukup baik, ramah.

Pagi, pak.. Ke stasiun ya?
Iya pak”, jawab saya.

Akhirnya kita meluncur pagi tadi menembus gelap pekat kota bandung subuh hari.
Dalam perjalanan, saya coba memecah hening.

Pak, memang berangkatnya pagi ya, jam 3 pagi masih standby..”, kata saya.
Iya pak. Saya workaholic
Saya kerja 22 jam pak. Pulang ke rumah jam 4 pagi, jam 6 pagi sudah jalan lagi.”

Dalam hati saya berkata: SADIS!
Nggak ada protes pak, orang rumah?

Dia diam sambil senyum.
 “Saya terbiasa kerja dari muda pak. Paling sehari tidur cuma 2-3 jam. Maksimal 4 jam itu sudah paling mentok. Dulu saya jadi DJ, kerjanya malam.
 “Bapak berarti cuma ngerjain Uber ya? Nggak ada bisnis lain?

Kalo saya masih ada bisnis lain, ini mobilnya punya saya pak, bukan punya bos”, katanya sambil ketawa.
Dulu saya sempat bisnis. Kerja trading oil ke perusahaan-perusahaan batu bara di Kalimantan. Kerja keras pagi siang malam. Dulu gampang cari uang. Tapi entah kenapa uang itu cuma ada di meja. Sampai sekarang, habis bersih tidak ada bekas. Rumah, mobil, tanah, semuanya hilang tak bersisa. Termasuk ISTRI dan ANAK

This is part of our life. Tuhan sekarang ambil semua yang sudah pernah dikasih ke saya.

Saya terkejut.

Anak-anak gimana pak?
Ya sekarang ikut ibunya. Better mereka ikut ibunya. Ibunya owner salah satu penerbitan besar di Indonesia.

Istri saya minta divorce bukan karena saya bangkrut. Dia sudah minta sejak 2 tahun sebelum saya tumbang. Saya gak pernah di rumah. Tiap hari kerja siang malam. Saya dengan OB di kantor dulu, kunci malah saya yang pegang, bukan dia
Dulu saya dibukain pintu, sekarang saya bukain pintu

Katanya sambil tertawa getir.

 “Saya sekarang kos di cibiru. Mendekati ibu. Cuma saya gak mau ibu sedih kalau saya tinggal di rumah, makanya saya kos. Tinggal dekat tapi nggak serumah

Pelajaran: Jangan Pernah Mengorbankan Keluarga

Saya diam merenung.

Diskusi saya setelah ini dengan beliau bergeser ke topik seputar bandung dan sekitarnya. Sepertinya dia hanya butuh teman untuk melepaskan emosi sesaat. Let’s recap.

1. Usia 45 tahun (ternyata)
2. Pernah punya harta berlimpah. Lalu hilang segalanya.
3. Kerja 22 jam sehari (sampai detik ini)
4. Pernah punya keluarga. Lalu hilang semuanya.

Pertanyaan saya satu ke diri saya sendiri akhirnya:

“Apa yang kau cari di dunia ini, nak?”

Banyak hal di dunia ini yang priceless, tidak bisa diukur dengan harta dan benda. Berapapun uang yang Anda punya. Push yourself hard, tapi jangan sampai mengorbankan apapun.

Masih ada hak keluarga kita, hak anak kita, hak pasangan kita, dan hak tubuh kita terhadap kita. Doa saya, semoga Anda semua yang mengikuti channel ini, diberikan kemampuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi dari cerita ngobrol singkat saya dengan driver Uber barusan.

Mari kita doakan si bapak agar kisah hidupnya juga menjadi lebih baik di kemudian hari, kembali mendapatkan apa yang sudah pernah dimiliki, tentunya atas izin Allah. Amiin..

Diambil dari tulisan yang dibagikan oleh channel telegram @scaleup

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search